Langsung ke konten utama

Show Your Own Color

 




Jadi, beberapa hari yang lalu saya ngobrol #eh ghibah sama temen.

Tentang seseorang yang kepribadiannya berubah (kaya power ranger aje)

Dulu doi introvert parah. Sempet ansos (antisosial). Misterius. Ga pernah cerita soal dirinya sendiri. Tertutup.


Eh, sekarang ... Ketika sudah menemukan 'tempat nyaman' dia kok berubah. (Atau bisa jadi sudah merasa nyaman?)


Kata temen: akhirnya perutnya engga kembung lagi karena nahan 'kentut'.

Trus auto mikir.

Oh, jadi kepribadian tuh bisa berubah ya.


Atau aslinya memang ada jiwa ekstro dan sanguinis di dirinya makanya kok bisa berubah saat bertemu dengan orang yang tepat dan di tempat yang tepat.


Terus ...

Auto keinget sama diri sendiri dong wakaka.


Saya dulunya adalah manusia menyebalkan. Tengil maksimal. 

Sekarang?

Masih dong. 🀣


Simpulannya?


Manusia bisa berubah.

Asal bertemu temen yang tepat.

Asal berada di tempat yang menurutnya nyaman.

Eh, bukan berubah ding.

Tapi mengeluarkan sifat aslinya.

Karakter aslinya. 

Wes ga enek tedeng aling2.

Ga jaim2 maning.

Ga usah minder atau insekyur karena belum bisa jadi manusia baik. (Aku sering ngomong sama diri sendiri kaya gini πŸ˜‚)

Manusia itu makhluk dinamis.  Makanya, temen yang dulu dekat, sekarang engga. Dulu yang ga kenal, sekarang CS banget. 

Manusia bisa berubah. Fungsi evaluasi diri, muhasabah #halah itu kan biar tau yang mana kudu diubah mana yang kudu dipertahankan.


Udah telanjur dicap buruk atau nyebelin?

Yo gapopo.

Wong memang kamu dulu kaya gitu.


Salah 1 step untuk self acceptance kan kaya gitu. Menerima kekurangan diri wkwkwk.


Susah cuy mengubah dan menghilangkan sifat jelek ki. Tapi bukan berarti ga bisa kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...