Langsung ke konten utama

AWE SAMBAT #5

 Jelang lebaran, sosmed diisi dengan tweet, status, pun sambatan para singlelillah: males bet deh, ntar pas halalbihalal ditanya kenapa ga kawen kawen?


Bahkan sampai ada yang benci momen lebaran. Kalau bisa mending ga usah ada lebaran aja. Bencinya sama lebarannya, bukan sama oknum hooman yang emang ga kreatif bikin pertanyaan.


Dan kemarin, hari potek hati nasional, gegara Maudy Ayunda, perempuan--yang kata netijen--SPEK SURGA, yang ga pernah pamer pasangan, eh, batiba unggah foto sama cowok yang ngajak dia ke pelaminan.


Jagat sosmed gempar seketika. Kemudian pada sibuk meng-upgrade dan memantaskan diri biar bisa dapat jodoh dengan spek tinggi.


...


Ngomongin soal belom nikah, ga perlu benci sama momen lebaran, halalbihalal, arisan, atau pertemuan lain.

Percayalah, jawaban-jawaban keren, mak jleb, maupun savage-mu ga bakalan bikin orang-orang itu berhenti bertanya.


Ga ketemu pas pertemuan, kalau papasan di jalan, ya mau ga mau bakalan ketemu pertanyaan #lol itu. Po meneh bar bakdo isine wong rabi. Weslah, ga bakalan slamet seko momen rewang atau sinoman. Pun siapkan diri saat dirimu jadi trending topic pergibahan duniawi.🀣


Selain faktor: kan cuma basa-basi, biar ada obrolan. Toh tujuan dari ucapan itu kan: MBOK NDANG NIKAH, EMANGE SING MBOK GOLEKI KI OPO MENEH?


Ga mungkin dong kamu jawab: 

MASIH ADA UTANG NIH, TANTE.

JADI TULANG PUNGGUNG ITU BERAT, TANTE.

RUMAH BELUM PROPER, TANTE.

JADI SANDWICH GENERATION ITU GA GAMPANG, TANTE.

DITOLAK TERUS, TANTE.

MAU FOKUS MERAWAT ORTU YANG SAKIT, TANTE.

... and many more reasons.


Mending, kalau ditanya: kapan nikah?

Jawab aja: GA ADA YANG MAU, TANTE.


Habis itu kamu pergi.

Menghilang dari pandangannya.


Besok-besok kalau ditanya lagi, jawab lagi kaya gitu.


Besoknya kalau tanya lagi, jawab gitu lagi.


Gitu terus pokoke sampai Harry Styles nyanyi lagu Sewu Kutho.


Semangat, ya, para singlelillah.

Insyaallah kalau ga tahun ini, ya, paling tahun besok.

Kalau ga tahun besok, ya, besok-besoknya.


Yuk, fokus ke hal-hal yang bisa kita kendalikan. Untuk hal-hal di luar kendali, mari kita tinggalkan dan ga usah terlalu dipikirkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...