Langsung ke konten utama

AWE, SI WOMEN IN PROGRESS

 MANUSIA ITU ....


Makhluk paling cepat berubah.
Berubah pola pikir. Berubah pola hidup. Berubah ... karakter (mungkin saja kan?)

Mengapa manusia berubah?
Karena semakin dewasa, lingkungan, teman, masalah.

Semakin dewasa.
Ini tentang pola pikir. Percayalah, tidak pernah ada orang yang sama. Teman yang kau temui waktu SD, SMP, SMA, Kuliah, bahkan sahabat dekat bisa berubah.

Lingkungan.
Valid. Lingkungan membentuk & mempengaruhi seseorang. Saya sudah membuktikannya. πŸ˜‚

Teman.
Punya teman = punya partner diskusi. Ada tukar pikiran di sana. Teman = partner bergunjing #LOL dia yang bisa membawa kita pada kebobrokan, kealiman, hal-hal baru lain.

Masalah.
Ini sudah terverifikasiπŸ˜‚ Masalah adalah guru terbaik dalam membentuk seseorang. Masalah memaksa manusia untuk berpikir, mencari solusi. Mau dihindari gimana pun, yang namanya masalah akan terus mengikuti. Ga akan hilang jika tidak dihadapi. Faktor ini yg paling banyak mengubah seseorang. Mengubah sudut pandang, cara memutuskan sesuatu. Mau lanjut hidup atau menyerah.
***
Saya dulu mudah dibuat kagum oleh orang yang kalau ngomong ndakik-ndakik, ngomong campur-campur Enggres πŸ˜‚

Terlihat smart. Cerdas. Saya dulu suka sama orang model kaya gitu.

Sekarang?
Hahaha.
Saya lebih suka orang yang realistis, berbicara sesuai kenyataan yang ada. Entah kenapa orang yang punya pola pikir simpel, apa-apa dibuat mudah, ga overthinking-an terlihat seksi di mata saya πŸ˜‚πŸ˜˜
***
Dulu saya pikir, orang yang ga sering update status, jarang upload foto adl orang yang keren. Orang misterius itu keren. Dan gegara itu, saya jadi pengen ikutan--soksokan--misterius.

Dan apa yang terjadi?
Gagal.
Krn bukan sy bangetπŸ˜‚

Sekarang?
Saya mau jadi diri saya sendiri saja.
Saya suka posting dengan kepsyen puwaaanjaaang. Menceritakan apa yang sedang saya rasakan. Kegelisahan.
Karena buat saya, tulisan2 itu semacam diary. Dari situ saya tahu perkembangan pola pikir saya.
Tentu saja, saya pernah malu saat baca kepsyen2 di postingan IG yang sudah berlalu. Kok gini amat ya saya dulu?

Namun, itulah proses.

Karena saya ... Woman in progress.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...