Langsung ke konten utama

TERNYATA, SAYA ADALAH MANUSIA BUSUK BAGI BEBERAPA ORANG


Pernah ga sih merasa bahwa di dalam hidupmu yang kamu pandang baik-baik saja itu, ternyata kamu busuk bagi beberapa orang? Tanpa sengaja sikap, tutur, atau tulisanmu menyinggung yang lain.

Itu yang sedang saya renungi sekarang.

Jangan-jangan ... sering orang tersinggung dengan apa yang saya lakukan, apa yang saya tampilkan, apa yang saya tuliskan?

Berkaca pada hubungan sosial saya dengan lingkungan. Ada teman yang bersikap B aja selayaknya teman. Ada yang memperlakukan saya bak senior. Dan ... ada yang dingin sama saya.

Dan saya ingin membicarakan yang bersikap dingin sama saya ini.

Saat pertama menyadari sikapnya, saya begitu benci. Saya pikir, "Kenapa ni anak kok beda banget klo sama saya? Sama yang lain bersikap B aja. Tapi klo sama saya kok serasa ada tembok tinggi? Kaku."

Saya menyalahkan dia. Saya menyalahkan sikapnya.

Sampai akhirnya, sampailah di pemikiran: Eh, kayaknya yang salah saya deh. Jangan-jangan, selama ini saya memperlakukan dia, layaknya dia memperlakukan saya sekarang?

Jedeeerrrr!

"Nah lho? Introspeksi gih!" kata saya pada diri sendiri.

Dan ... setelah merenung lama. Saya pun tahu jawabannya. Yap. Memang benar, selama ini saya ga terlalu 'memperhatikan' keberadaannya. Saya cuma menganggap dia sebagai rekan, bukan teman. Saya cuma menganggap dia sebagai sosok yang hanya cukup saya sapa saja, dan ga saya libatkan dalam obrolan.

Oh, God. Busuk banget, ya, saya ?

Sok-sokan menaruh perhatian sama mental illness, eh, ternyata saya justru jadi 'calon pelaku'. Mental teman saya itu kuat sih kayaknya, tapi siapa tahu, ya, kan? Klo ternyata sikap dingin saya selama ini ternyata menyakiti? Sudah menorehkan banyak luka di hati (nya).

Kalau mau diperlakukan baik, ya, perlakukan orang lain selayaknya kamu ingin diperlakukan.

Duh, rek. Introspeksi (setiap hari) memang perlu. Ternyata kita bisa lho berpeluang menjadikan orang bermental illness tanpa kita tahu.

Jeongmal mianhe, Chingu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...

Ketakutan Akan Ditinggalkan

Ini yang selalu aku takutkan. Bahkan sering kebawa mimpi. Gimana kalau ibuk mati? Gimana kalau aku ditinggal ibuk sendiri? Aku bisa ga hidup sendiri? Literally sendirian di dunia ini. Saudara ga ada, ortu udah ga ada. Bener-bener sendiri. Apa aku bisa? Apa aku mampu? Saudara deket, ada yang ga suka sama aku. Tanpa aku tahu alasannya. Tiba-tiba mendiamkan. Tanpa mau berjumpa, apalagi bertegur sapa.  Ketakutan akan ditinggalkan, sendirian, ternyata ketakutan ini aku rasakan sejak dulu kala. Sejak kecil. Aku ga punya temen sebaya. Kalau main, selalu sama yang lebih tua. Dan aku ... selalu ditinggal. Aku selalu ditinggalkan. Ga diajak. Mungkin aku dianggap anak kecil yang bisanya cuma mengganggu saja. Agak gede dikit, punya kenangan soal tidak dipilih. Jadi wajahku ini enggak cantik. Rambut juga keriting. Kalau ada orang punya hajat, aku ga pernah diminta buat jadi patah. Padahal, anak-anak kecil di kampungku hampir semua pernah jadi patah, bahkan ga hanya sekali tapi berkali-kali. Aku...