Langsung ke konten utama

MENJADI OPEN MINDED PART 1



Apa yang kalian pikirkan saat pertama kali lihat foto ini?
Astaghfirullah. Ukhti2 ini nongkrong di warung BEER. Tobat! πŸ˜‚
Walau kite2 nongkrong di situ, tapi ga nenggak beer kok. Itu tuh hostel tempat kami nginep. Semi2 warung. Jadi klo mo mabok di sini, bisaaaah!
Tapi kite-kite sebagai ukhti solikah serempak say: ogah.
Ealah, We. Isuk-isuk wes ngebak2i TL IG.
Ekekeke. Lha wes akeh uneg-uneg yang mendarah daging di otakku πŸ˜†. Yen ga segera kusalurkan, ngko mampet.
Mau ngomongin soal Open Minded (OM)--entah sudah keberapa kali. Ni bukan berarti saya udah OM banget ya orangnya. Saya masih suka ngegas n baperan. Tapi lagi berusaha jadi jamaah OM gitu sih.
Saya setuju sama Gitasav (influencer) yang mendefinisikan istilah OM. Punya pikiran terbuka bukan berarti kita mengkompromikan pemikiran kita, bukan lantas kita iya2 aja atau selalu setuju sama pemahaman lain. Menjadi OM adalah saat kita mau mendengarkan cara pandang orang lain, mengevaluasi pemahaman tsb dan menilainya secara fair. Misal kita ga setuju, kita sampaikan ketidaksetujuan dengan cara baik2.
Nah, gimana sih cara biar bisa jadi orang yang OM?
Banyak cara!
Intinya, kamu kudu keluar dari zonamu. Klo aku, aku suka ketemu orang2 baru. Suka denger cerita baru. Suka nyari pengalaman baru. Dan salah satu yang bikin aku mendapatkan semua itu dengan traveling. Traveling ga harus ke luar negeri ya. Traveling kan ada banyak macam. Naik gunung, touring, sepur2an, blusukan.
Aku punya temen yang kerjanya wawancara macem2 orang. Dia jadi OM dengan lebih menghargai mereka yg berbeda. "Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, agama, cuy, ga bisa membanggakan salah 1 aja," kata dia.
Ada lagi. Temen yg suka naik gunung. OM membuat dia interest banget sama orang utan. Cita2 dia pengen jadi sukarelawan orang utan. Moga kesampaian ya sis. (Maul πŸ’“) γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€
Ada juga orang auto OM bekoz keadaan. Ya kaya mbak Gitasav tadi. Dia hidup di di Jerman. Dia bertemu beragam komunitas. Nasrani, Yahudi, Gay, dll. Gitasav minoritas. Muslim. Jilbaban pula. Supaya dia bisa membaur dengan society di sana, ya, dgn membuka pikiran. Fitrahnya kan manusia satu dengan lainnya saling membutuhkan.
Dowo banget bakne. Astaga. Padahal jek duwe uneg-uneg akeh. Sesuk neh ah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...