Aku sudah menganggapnya
kakak. Dia keren sekali. Orangnya manis. Pinter, eh cerdas ding. Tingkat
kecerdasannya ngga Cuma intelektual, tetapi juga cerdas emosi, spiritual, dan
dewasa bingit. Apapun yang dia katakan selalu ada “sesuatunya”. Apapun yang dia
lakukan, pasti bisa membuatku untuk turut melakukannya. Ah dasar, dia
benar-benar magnet kebaikan untukku. Mengajarkanku bagaimana mencari ladang
amal. Mengajarkanku makna hidup. Mengajariku bersikap. Mengajariku bagaimana
meringankan yang berat dan membentuk senyum di kala marah, sedih, duka sedang
melanda. Ah, I LOVE YOU SO MUCH, my beloved sister.. Ana Uhibukillah… :* EK
Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya: How r u? R u okay? Udah makan? Kamu makan enak ga? How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada: Gimana kabar your mom ? Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh. Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...
Komentar
Posting Komentar