Langsung ke konten utama

Postingan

Buka Mata, Kamu Tak Sendirian

Aku mau sedikit cerita. Dulu pernah ada anak magang di kantorku. Sekarang umurnya ya kurleb 24-25 th. Cewek. Pas bapakku ga ada kmrn, aku sempet down kan. Trus mantan temen kerjaku ngasih motivasi. Salah satunya, dia cerita tentang si anak magang ini. Dalam waktu 2 Minggu, dia kehilangan bapak, ibuk, sama nenek. Bapaknya yang pertama. Kena TBC. Trus meninggal. Beberapa hari kemudian, neneknya jatuh. Trus meninggal. Selang bbrp hari, ibuknya ambruk, dibawa ke RS. Ternyata kena covid. Sempet beli plasma 2 kantong, habis 6 juta. Tapi yang kepake baru 1 kantong. Dan tak berapa lama kemudian, si ibuk menyusul suami dan nenek. Akhirnya si anak magang ini, wajib Isolasi bersama 2 adiknya. Ga ada bantuan dari pemerintah desa. Cuma mengandalkan tetangga n saudara sebelah rumah. Kayanya ini sih hikmah kenapa Tuhan mempertemukan kami. Untuk saling menguatkan dan mendoakan. Allah emang baik ya. Kita ga akan dibuat lama berlarut-larut dalam duka. Ada banyak pelajaran di sekitar yang bikin kita jadi...

Kok Udah Ceria?

 Ada beberapa temen komen: wah, sekarang udah ceria ya?  ***  Iya. Seminggu penuh saya nangis. Seminggu penuh saya nyalahin diri sendiri. Seminggu penuh saya merenung. Banyak hal yang saya sesali. Saya lewatkan. Saya ga berhenti menyalahkan diri sendiri. Lalu pikiran waras dan hati saya bilang: Udah cukup. Bapak udah bahagia. Insyaallah udah tenang. Ga sakit lagi. Masih ada ibuk. Jaga ibuk baik-baik. Yok bisa yok. Jadi, ya, gitu. Akhirnya saya memilih bangkit. Sampai sekarang sesekali masih nangis. Mewek. Tapi, saya kira itu wajar. Ditinggal orang terkasih tanpa ucapan perpisahan. Tanpa bisa lihat wajah terakhirnya. Tanpa melalui proses 'lumrah' kaya orang lain. Saya kira itu wajar. Capek juga nulis panjang-panjang di medsos. Capek juga galau terus-menerus. Udah saatnya bangkit. Hidup harus lanjut. Luka ini hanya sementara. Sedih ini ga akan selamanya. Insyaallah jalan masih panjang. Dan ada teman yang siap mengulurkan tangan saat saya mulai sempoyongan.

Luka Ini Hanya Sementara, Sedih Ini Tak Akan Lama

 Saya selalu merasa bukan teman baik. Bukan anak baik. Bukan orang baik. Saya jarang (tepatnya tidak mau) berekspektasi kepada orang lain. Tidak berekspektasi diperlakukan baik. Mendapat perlakuan baik. Saya takut kecewa. Saya takut, takut akan karma (atas apa yang sudah saya lakukan sebelumnya). Namun, kini mulai saya sadari. Saat saya sedih. Saat saya berada di titik rendah hidup, saya melihat banyak orang bersimpati. Melihat banyak orang berdoa untuk kami. Saya bukan orang baik. Dan saya malu. Maaf, karena selama ini saya tidak bersikap baik. Banyak sekali kebaikan, doa baik, support yang ditujukan kepada saya dan ibuk. Ada keluarga dekat yang tak berhenti memberi semangat, saya tidak kesepian saat harus isolasi mandiri dengan ibuk. Keluarga tetap menganggap kami ada. Menganggap kami baik-baik saja. Sehat. Tidak kurang satu apa. Tidak takut bertatap muka. Dan ... Sampai hari ini tak berhenti doa, semangat, perhatian yang diberikan teman-teman. Bahkan teman yang dulu pernah satu ...

Kematian yang Tidak Diketahui Banyak Orang

  Senin, 12 April 2021 adalah hari pertama saya jadi anak yatim. Ya, bapak saya meninggalkan saya dan ibu lebih dulu. Sudah cukup bapak berjuang sendirian. Sakit sendirian. Semoga sakitnya bapak bisa menjadi jembatan penggugur dosa-dosa beliau. Aamiin. Bapak meninggal pukul 07.30. Setelah berjuang di ruang ICU satu setengah hari. Dan lagi-lagi, sendiri.  Bapak mungkin sudah menyerah. Bapak mungkin sudah tidak tahan. Karena pasti sakit sekali rasanya. Kematian bapak meninggalkan kesedihan mendalam untuk saya dan ibuk. Ibuk masih tidak menyangka bahwa hari Selasa, bakda Maghrib, saat ibuk membantu bapak mengancingkan baju batiknya adalah momen bakti terakhir ibuk untuk bapak. Dan saya juga tidak menyangka, bahwa SMS bapak pada hari Kamis adalah obrolan terakhir saya dengan bapak.  Andai saya tahu bapak pergi secepat ini, tentu saja saya akan memperlakukan bapak dengan baik. Lebih baik. Sungguh, saya bukan orang baik. Bukan anak baik. Saya menyesal tidak punya banyak kenanga...

Ingin Selalu Dipandang Baik Orang, Sampai Kapan?

Sore tadi, saya marah. Saya (kini mencoba jadi) orang yang memang kalau ga suka akan sesuatu, saya utarakan. Penyebabnya? Ternyata orang brengsek di dunia ini ga cuma saya 😂. Dan saya temukan berupa kumpulan. Sedap memang! Dan saya ungkapkan amarah dan kekecewaan saya. Jika ada yang tanya, kenapa di dunia nyata dan maya kamu sama busuk dan ngerinya, W? Seleksi. Ga takut orang-orang pada pergi? Jelas ... Pernah takut. Bahkan pernah dalam posisi sangat takut. Klo orang tahu sifat-sifat buruk saya ntar mereka gimana, ya? Apa masih mau temenan, ya? Apa bakalan jadi bahan omongan, ya? Apa ... Apa .... Ketakutan tak beralasan. Pikiran-pikiran buruk yang memuakkan.  Karenanya, saya jadi takut berterus terang. Tak jadi diri sendiri karena takut dijauhi. Selalu mencoba menjadi manusia bijak dan positif. Menahan. Biar sempurna pencitraan. Setiap kali bertemu dan kenal dengan orang baru. Teman baru, saudara baru, ipar baru, lingkungan baru ... Selalu berusaha jadi apa yang mereka mau. Manusi...

Keluarga adalah Musuh Besar Kedua

Lahir di keluarga open minded, suportif, dan demokratis ... itu privilege. Ketika kamu cerita soal cita-cita, mau setinggi apa pun itu, orang tua mengaminkan. Ketika kamu cerita soal kegelisahan, kekhawatiran, kegagalan, mau sesedih dan sedown apa pun, orang tua menyediakan bahu untuk bersandar. Ketika kamu menceritakan tentang kesuksesan dan pencapaian, orang tua akan bertepuk tangan dan memberi pelukan. *** Setiap orang punya batas sensitivitas masing-masing. Setiap orang punya titik bapernya masing-masing. Karena setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Privilege-nya masing-masing. Setiap orang punya cerita. *** Karena ada banyak kisah yang .... Ketika cerita tentang cita-cita, mau setinggi apa pun, orang tua justru menjatuhkan dan bilang: Halah, jadi orang ga usah muluk-muluk. Ketika kamu cerita tentang kegelisahan, kekhawatiran, kegagalan, mau sesedih dan sedown apa pun, orang tua justru bilang: Halah, gitu aja nyerah. Ketika kamu menceritakan tentang kesuksesan dan pencapa...

Seblak Sebagai Penutup Hari Produktif

 Sebuah Keniscayaan Habis Subuh nganter emak ke pasar. Pulang, makan 3 onde-onde dan 2 klenyem. Habis makan, minum segelas air putih. Lanjut siram-siram tanaman. Nyuci motor. Nyapu latar.  Leren dilut.  Nyuci piring. Nyuci pakaian. Mandi. Jam 9 jemput emak ke pasar. Pulang. Ndolani ponakan, tapi pas tak dolani malah nangis teros. Jam setengah 11 kerja. Tapi nang ngomah dong. Setu-setu kerjo kok len-len. Soale cuan kuwi kudu diupayakan, ga iso ditunggu tok tanpo tindakan. Kerjo ... Edit revisi edit revisi ... Eh, jam 2 luwe. Madang sik Gaes. Lanjut kerjo maneh. Jam setengah limo jadwal ngeterke emak kulakan. Jam limo teko ngomah. Lanjut kerja maneh merga kurang sithik. Jam limo punjul seprapat alhamdulilah selesai Gais. File dikirim email. Sent. Lanjut siram-siram. Eh, diluruhi bu-ibu sing lagi tilikan Mbah Atmo kembang. Jelang Maghrib nembe rampungan. Gage mandi dong. Biar wangi kaya bunga Melati. Habis mandi kutolong weteng sing krucuk-krucuk. Hari yang sungguh produktif...