Langsung ke konten utama

Postingan

Dua Teman Unik

Tiba-tiba saya ingin berkisah tentang teman SD saya. Dua teman unik, lebih tepatnya. Dua lelaki. Yang satu langganan juara kelas, yang satu orang paling alim di kelas. Sang juara kelas memang diberi watak agak-agak arogan, tapi begitu dia nggak neko-neko. Dalam artian jarang terlibat dalam sebuah obrolan dengan teman yang lain. Dia lebih asyik dengan buku. Teman akrabnya ya si alim sedunia itu. Hehe… Sedangkan si alim sungguh sangat ceria orangnya. Lhoh? Katanya alim, kok ceria? Weits, tunggu dulu. Biar dia alim, tapi pribadinya sungguh mulia. Masih suka nimbrung bareng temen lainnya. Dan dia jarang jajan. Tahu nggak duit jajannya dipakai buat apa? Ditabung, Gaes. Jadi selama 6 tahun sekolah SD dia tabung semua uang jajannya. Jadilah dia punya julukan baru si “hemat”. Si juara kelas, walau arogan. Dia belum pernah berbuat cela kepada teman lain. Kami pun fine-fine saja dengan si juara ini. Selang beberapa tahun setelah lulus SD, saya mendapat kabar tentang dua kawan saya ...
If you want to get married, ask Allah for 3 things in a spouse: 1. Grant me someone who will remind me of you. 2. Grant me someone who will hold my hand in Jannah. 3. Grant me someone who will elevate my Emaan

Ketika Sabtuku Berakhir di ...

Di ..... Di mana? Jadi, kisah ini berawal dari empat sekawan yang berencana untuk “mbolang” ke Wonogiri naik Bathara Kresna. Yah, sebagai remaja #eh udah nggak remaja lagi *waks… Yah, sebagai orang gaul kota Solo, tentu saja kami-kami nggak mau sampai ketinggalan euforia naik di railbus itu. Kami berencana mengambil kereta pukul 06.24. Alhasil, pukul 05.30 kami sudah cuuusssss ke Stasiun Sangkrah. Sampai di stasiun, weeeee lhaaa dalaaaahh.. Ruamene rek. Ruamene ra karuan. Sampek ga isoh dibiyak. (Ramai sekali, sampai tidak ada celah). Hiks… dengan wajah sendu kami pun keluar stasiun dengan semangat lesu.  “Wonogiri gagal, Gaes. Kita mau ke mana nih?” Ucapku memecah kebuntuan. “Jogja aja, yuk!” Sahut salah satu teman. “Oke. Yuk!” Jawab yang lain bersamaan. Akhirnya, kami gowes motor lagi ke stasiun Balapan. Ning stasiun Balapan Kutha Solo sing dadi kenangan Kowe karo aku  uuuuuu………… Baru sampai pintu masuk (d...

Lihatlah

lihatlah walau sekejap . layaknya titik embun yg transparan.. kelalaian memang tak bisa dìngkari. namun tetap lihatlah sejenak. hati miris terlelap sepi, sunyi diri melanda mimpi. tetaplah lihat sejenak. perihnya hati tersayat duri, memang aku tak mampu menciptakan pelangi, ku hanya bisa menulis puisi.. keraguan yg tertancap di hati, akankah abadi? sungguh perih hati ini meratapi, tiap tangga yang semakin menukik.. lihatlah aku sejenak.. setidaknya ada setitik kelebihan yang bisa kau tangkap.. lihatlah aku sejenak..

Tulisan Manusia Berusia 20 tahun, Perihal Kedewasaan

Dewasa. Sebuah kata yang sejuk terdengar di telinga. Siapa yang tidak ingin menjadi dewasa? Bukan hanya dewasa secara fisik, tetapi juga psikis. Menjadi dewasa, berarti kita telah mampu mengakulturasikan logika dan sanubari. Apa yang ada di otak kita akan dialirkan menuju hati, begitulah sebaliknya.  Menangis dengan dewasa.  Bersedih dengan dewasa. Melangkah dengan dewasa. Bertutur dengan dewasa.  Marah dengan dewasa.  Berjalan dengan dewasa. Berpikir dengan dewasa.  Dan masih banyak aplikasi sebuah kedewasaan dalam tradisi tata laku dan tata wicara orang perorang.  Seseorang dengan kadar kedewasaan tinggi, tak jarang menjadi sosok inspirator dan sumber kekaguman sesama. Sebaliknya, seseorang dengan kadar kedewasaan yang jauh di bawah usia fisiknya, lebih banyak hanya menjadi sorotan pandang yang cenderung negatif, bahkan hanya dilihat sekilas karena hanya dipandang sebelah mata. Memang tidak ada aturan ataupun konvensi yang mengharuskan ...

Catatan Hatiku Tentangmu, Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintang untuk aku anakmu Ibuku sayang Masih terus berjalan Walau langkah kaki penuh darah penuh nanah ¤ Seperti udara kasih yang engkau berikan tak mampu ku membalas ibu oh ibu (Ibu - Iwan Fals) Mungkin bagi sebagian orang, prosa ini menggelikan. Lucu. Kekanakan. Namun bagiku, ini berharga. Tak peduli kau kan menertawakanku, terserah . Ibu - Iwan Fals. Lagu yang indah. Lagu yang tepat. Lagu yang menggambarkan betapa besar jasa, pengorbanan, peran dominan sosok ibu bagi hidupku . Begitulah, Bu. Begitu berharganya kau bagiku. Kau kayuh sepeda tuamu. Menyusuri ribuan kilometer. Sudah hampir 20 tahun kau memeras energi, pikiran, dan hatimu untukku. Anakmu hanya satu. Hanya aku. Dan aku, oh ibu maafkan aku. Aku belum bisa membahagiakanmu. Bahagiamu. Kata ini selalu menghantuiku. Apa-apaan aku ini? Tak bisa mempersembahkan kebanggaan ke pundak ibu. Ibu oh ibu. Percayalah. Cintamu mendalam terukir di hat...