Langsung ke konten utama

Postingan

Ingin Selalu Dipandang Baik Orang, Sampai Kapan?

Sore tadi, saya marah. Saya (kini mencoba jadi) orang yang memang kalau ga suka akan sesuatu, saya utarakan. Penyebabnya? Ternyata orang brengsek di dunia ini ga cuma saya 😂. Dan saya temukan berupa kumpulan. Sedap memang! Dan saya ungkapkan amarah dan kekecewaan saya. Jika ada yang tanya, kenapa di dunia nyata dan maya kamu sama busuk dan ngerinya, W? Seleksi. Ga takut orang-orang pada pergi? Jelas ... Pernah takut. Bahkan pernah dalam posisi sangat takut. Klo orang tahu sifat-sifat buruk saya ntar mereka gimana, ya? Apa masih mau temenan, ya? Apa bakalan jadi bahan omongan, ya? Apa ... Apa .... Ketakutan tak beralasan. Pikiran-pikiran buruk yang memuakkan.  Karenanya, saya jadi takut berterus terang. Tak jadi diri sendiri karena takut dijauhi. Selalu mencoba menjadi manusia bijak dan positif. Menahan. Biar sempurna pencitraan. Setiap kali bertemu dan kenal dengan orang baru. Teman baru, saudara baru, ipar baru, lingkungan baru ... Selalu berusaha jadi apa yang mereka mau. Manusi...

Keluarga adalah Musuh Besar Kedua

Lahir di keluarga open minded, suportif, dan demokratis ... itu privilege. Ketika kamu cerita soal cita-cita, mau setinggi apa pun itu, orang tua mengaminkan. Ketika kamu cerita soal kegelisahan, kekhawatiran, kegagalan, mau sesedih dan sedown apa pun, orang tua menyediakan bahu untuk bersandar. Ketika kamu menceritakan tentang kesuksesan dan pencapaian, orang tua akan bertepuk tangan dan memberi pelukan. *** Setiap orang punya batas sensitivitas masing-masing. Setiap orang punya titik bapernya masing-masing. Karena setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Privilege-nya masing-masing. Setiap orang punya cerita. *** Karena ada banyak kisah yang .... Ketika cerita tentang cita-cita, mau setinggi apa pun, orang tua justru menjatuhkan dan bilang: Halah, jadi orang ga usah muluk-muluk. Ketika kamu cerita tentang kegelisahan, kekhawatiran, kegagalan, mau sesedih dan sedown apa pun, orang tua justru bilang: Halah, gitu aja nyerah. Ketika kamu menceritakan tentang kesuksesan dan pencapa...

Seblak Sebagai Penutup Hari Produktif

 Sebuah Keniscayaan Habis Subuh nganter emak ke pasar. Pulang, makan 3 onde-onde dan 2 klenyem. Habis makan, minum segelas air putih. Lanjut siram-siram tanaman. Nyuci motor. Nyapu latar.  Leren dilut.  Nyuci piring. Nyuci pakaian. Mandi. Jam 9 jemput emak ke pasar. Pulang. Ndolani ponakan, tapi pas tak dolani malah nangis teros. Jam setengah 11 kerja. Tapi nang ngomah dong. Setu-setu kerjo kok len-len. Soale cuan kuwi kudu diupayakan, ga iso ditunggu tok tanpo tindakan. Kerjo ... Edit revisi edit revisi ... Eh, jam 2 luwe. Madang sik Gaes. Lanjut kerjo maneh. Jam setengah limo jadwal ngeterke emak kulakan. Jam limo teko ngomah. Lanjut kerja maneh merga kurang sithik. Jam limo punjul seprapat alhamdulilah selesai Gais. File dikirim email. Sent. Lanjut siram-siram. Eh, diluruhi bu-ibu sing lagi tilikan Mbah Atmo kembang. Jelang Maghrib nembe rampungan. Gage mandi dong. Biar wangi kaya bunga Melati. Habis mandi kutolong weteng sing krucuk-krucuk. Hari yang sungguh produktif...

Kartini dan Wanita Masa Kini

Ngomongin soal Kartini, sama artinya ngomongin soal wanita. Katakanlah Kartini adalah simbol perjuangan wanita. Bahwa wanita itu punya ... Cita-cita Harapan Impian Dalam mencapai itu semua, mereka akan berjuang. Perjuangan. Tak masalah bersusah payah. Tak masalah berdarah-darah. Peran wanita dalam masyarakat dan keluarga ... Ga hanya sebatas 3M. Masak. Macak. Manak. Karena kekuatan wanita itu ... Tanpa batas. Sering kita temui para wanita yang berpenampilan sederhana. Terlihat polos, tak ada daya. Buruh panggul. Buruh tandur. Buruh bangunan. Bakul bakwan. Bakul soto. Pemulung. Supeltas. Penjahit. Bakul sayur. Terlihat lemah dan rapuh. Namun, dari mereka. Lahir sarjana. Orang besar. Orang sukses. Itu karena. Tak masalah bersusah payah. Tak masalah berdarah-darah. Demi keluarga. Demi putra-putri mereka. Wanita-wanita yang menjadi tulang punggung, bukan hanya sedang menyiapkan rumah di surga. Tapi juga menancapkan kebanggaan di dada putra-putri ...

Surat untuk Diri Sendiri

Hei, kamu ... Kerja bagus. Makasih, kamu sudah mampu mengatasinya dengan baik. Makasih, kamu sudah berjuang sejauh ini. Kamu sungguh ... keren. Insyaallah di ujung jalan nanti ada kejutan menanti. Kejutan bahagia tentunya. Jangan berpikir (lagi) untuk cepet-cepet pergi dari dunia ini. Karena masih banyak hal menarik untuk dicoba. Masih banyak tempat yang perlu dijelajahi. Masih banyak takdir baik yang perlu ditemui. Hei, kamu sudah berjalan sejauh ini. Lihat, sudah berapa jauh jalan itu? Bukankah itu memakan waktu yang tak sebentar? Selama itu, kamu sudah berhasil melalui hari demi hari. Masalah demi masalah. Ujian demi ujian. Apa kau tak sadar kau banyak tumbuh dan berkembang? Apa kau tak ingin lebih tumbuh lebih tinggi dan berkembang lebih luas lagi? Hei, kamu tak sendiri. Ada aku di sini. Ada teman lain yang menerimamu dengan senang hati. Percayalah, kamu tak sendiri. ***

Privilege

Privilege Saya tuh termasuk orang yang sering minder.  #LOL Apalagi klo udah dihadapkan sama privilege orang lain. FYI, privilege adalah hak istimewa yang didapat seseorang karena .... Ada bermacam2. Karena kaya, cantik, pinter, karena punya orang dalem #eh dll dst Kalau kamu berasal dari keluarga B aja, ga cantik, ga pinter-pinter amat ... Minder ga? Ya jelas lah. 🤣 Tapi, kadang pas lagi waras tuh saya bisa mikir gini: Iri dengki boleh kok, tapi bentar aja. Toh, namanya rezeki. Ga bisa diubah. Wong semua udah jadi suratan Illahi. Pernah denger: Kalau kamu cantik/ganteng, separo masalah hidupmu teratasi? Ada benernya, ada salahnya. Salahnya: yang cantik/ganteng rentan kena pelecehan, trus hidup jg ga tenang krn banyak yang ngejar2. Benernya: Orang cantik/ganteng lebih bisa 'dimaafkan dan dimaklumi' saat melakukan kesalahan. 😂 Nah, biar ga minder2 amat, saya suka mikir gini: Anggaplah yg punya privilege karena cantik/ganteng/kaya = punya hak istimewa = kem...

Seni dalam Hidup

Hidup memang begitu. Sering kali kita dipaksa. Ketika kehilangan, kita dipaksa merelakan. Ketika perpisahan, kita dipaksa melepaskan. Hidup memang begitu. Sering kali kita terpaksa. Setelah kehilangan, kita terpaksa merelakan. Setelah perpisahan, kita terpaksa mengikhlaskan. Namun begitu, duka luka derita dicipta bukan untuk meremukkan manusia. Bijaksana dan dewasa, adalah buah manis ketika kita berhasil melaluinya. Lebih dewasa dalam bersikap. Lebih bijaksana dalam menghargai setiap situasi. Mencintai dengan lebih apa yang dimiliki. Menjaga dengan baik mereka yang pantas dicintai.