Langsung ke konten utama

Postingan

Hijab: modesty, humility, and dignity.
“Cara terbaik menghilangkan ketakutan adalah menghadapi ketakutan tersebut” — Henna Hito

Pengalaman Pertama Donor Darah

Deg-degan, itu pasti. Jadi, pengalaman ini bermula ketika teman kantor tanya soal golongan darah saya. “Mbak, golongan darahmu apa?” Aku jawab, “AB, Mbak.” “Mbak, saudaraku ada yang butuh tranfusi darah. Butuh dua kantong, tapi baru dapet 1 orang. Kamu mau donor nggak, Mbak?” Emmmm… Saya terdiam sejenak. Donor nggak, ya? Aku takut darah. Emmm…. Belum ada jawaban. Teman saya masih setia menunggu jawaban dari saya. Cemas jika saya mengatakan “tidak.” Saya berpikir keras. Selama ini saya takut darah. Selalu lemas begitu melihat darah keluar dari ari yang sangat tipis. Tapi, kemudian saya pikir. Emmm, jika saya berada di posisi itu. Emmm… Bismillah. “Iya, Mbak. Aku mau.” Senyum terkulum dari bibir tebalku. Bismillah. Cara terbaik menghilangkan ketakutan adalah menghadapi ketakutan itu. Semoga dengan pengalaman pertama ini, ketakutan terhadap darah perlahan hilang. Pelan pun tak apa. Jadilah saya dan teman saya menuju ke salah satu rumah sakit di Solo. Sesampai...
“Rasa benci akan hilang, jika kita sudah menemukan kebaikan pada dirinya. Jika belum menemukan, cari dan cari terus.” — Henna Hito https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRdjbWG6M2McpY40alZKaPfqwhDukl-0tPldEq-2m1jlrb6d4si

‘Dia’Akan Datang Pada Waktunya

Saya punya teman. Dia sedang giat memperdalam ilmu agama. Peristiwa apapun yang singgah di hidupnya, selalu menjadi cerita asyik untuk dibahas di antara kami berdua. Dia menjadi penafsir hikmah. Dia selalu menerima setiap keadaan dengan ikhlas dan penuh syukur. Masya Allah, luar biasa perubahannya kini. Kisah terbaru. Inspirasi dia dapat tadi pagi. Kisah kali ini bertema ‘jodoh’. Jodoh memang di tangan Allah, tapi jika tidak kita jemput, yaaa akan terusan di tangan Allah, hehe... Kisah terjadi di dalam kereta. Teman saya berangkat dari Stasiun Kutoarjo menuju Jogja. Sepanjang perjalanan, teman saya mendapat teman perjalanan yang sangat mengagumkan. Pasangan keluarga dengan satu anak yang sangat manis. Sang istri berusia sekitar 40 tahunan, berjilbab lebar, dan berwajah biasa. Sedangkan sang suami, usia berkisar 30 tahunan dan berwajah ganteng. Orang awam mungkin akan mencibir, merasa tidak percaya, serta bisa jadi menganggap mereka sebagai kakak adik. Tapi, Allah berkehendak lain. ...

Dua Teman Unik

Tiba-tiba saya ingin berkisah tentang teman SD saya. Dua teman unik, lebih tepatnya. Dua lelaki. Yang satu langganan juara kelas, yang satu orang paling alim di kelas. Sang juara kelas memang diberi watak agak-agak arogan, tapi begitu dia nggak neko-neko. Dalam artian jarang terlibat dalam sebuah obrolan dengan teman yang lain. Dia lebih asyik dengan buku. Teman akrabnya ya si alim sedunia itu. Hehe… Sedangkan si alim sungguh sangat ceria orangnya. Lhoh? Katanya alim, kok ceria? Weits, tunggu dulu. Biar dia alim, tapi pribadinya sungguh mulia. Masih suka nimbrung bareng temen lainnya. Dan dia jarang jajan. Tahu nggak duit jajannya dipakai buat apa? Ditabung, Gaes. Jadi selama 6 tahun sekolah SD dia tabung semua uang jajannya. Jadilah dia punya julukan baru si “hemat”. Si juara kelas, walau arogan. Dia belum pernah berbuat cela kepada teman lain. Kami pun fine-fine saja dengan si juara ini. Selang beberapa tahun setelah lulus SD, saya mendapat kabar tentang dua kawan saya ...
If you want to get married, ask Allah for 3 things in a spouse: 1. Grant me someone who will remind me of you. 2. Grant me someone who will hold my hand in Jannah. 3. Grant me someone who will elevate my Emaan