Langsung ke konten utama

PELAJARAN HIDUP DARI KIM SABU: LANGIT TAK PERLU MENGATAKAN BAHWA DIRINYA TINGGI

Aku mau nulis kepsyen agak panjangan hahaha. Tentang review drakor.
Tentang tokoh Kim Sabu di drama Romantic Doctor, Teacher Kim. Baik season 1 dan 2, sama-sama bikin saya terpesona #uhuk Karakter blio kuat banget. Padahal masuknya ni tokoh fiksi ye. Tapi bisa bikin saya mengidolakan sosoknya.

Ungkapan: LANGIT TAK PERLU MENGATAKAN BAHWA DIRINYA TINGGI. Itu Kim Sabu banget. Blio itu dokter bedah berbakat. Menguasai teori bedah membedah. Plus, blio bener2 menjadikan pengalaman jadi guru besar. He em. Sering banget blio mengambil keputusan yang SUPERANEH untuk menyelamatkan pasien. Pernah tuh pasiennya gagal jantung, langsung aja tanpa babibu Kim Sabu merobek dada pasien, trus masukin tangannya. Tangannya memompa jantung pasien yang sempet mandeg. Alhamdulillah nya jantung pasien kembali berdetak. Wagelaseh!
Blio tengil banget, aselik! Dan blio adalah sosok angkuh untuk mereka yang belum kenal. Tapi, blio adalah PANUTAN bagi pegawai di RS Doldam, warga, bahkan preman #LOL
Kim Sabu ga perlu menyebut dirinya: WOEY, AKU KIM SABU. DOKTER BERBAKAT. AKU KEREN. HORMATI AKU. SAYANGI AKU #Lhoh
Justru orang di sekitarnyalah yang melabeli blio KEREN, GILA, CERDAS, BERBAKAT, ANEH, DAEBAK, AWESOME.
Kim Sabu GA PERLU PENGAKUAN. Kim Sabu GA GILA KEHORMATAN.
Fokus blio Cuma satu: MENYELAMATKAN NYAWA PASIEN.
Kan memesona banget kan?
Banyak quotes apik sih dari drama ini. Pan kapan klo ga males, aku share lagi. Hahaha. Kali aja ada yang ikutan ‘hijrah’ jadi manusia yang (((help people selflessly)))) kaya Kim Sabu. Bantu tanpa memedulikan kepentingan. Status sosial. Cantik apa engga. Semuanyaaaaaaa.
Moga ada Romantic Doctor, Teacher Kim season 3. πŸ˜

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...