Langsung ke konten utama

Edisi Orang Baik Part Sekian

Yang di Solo dan sekitarnya, hari ini merasakan hujan abu berjamaah ya. Biar pun ga selebat pas Kelud meletus beberapa tahun yang lalu, tapi mayan bikin kelilipan mata. Alhamdulillahnya, agak sorean turun hujan. Hujan air. Menyapu sisa abu yang nempel di matamu #eh di jalan sama genteng sama pohon sama lain-lainnya.
Dan ... Hu um. Masker langka. Padahal dalam situasi berabu kaya tadi, pastilah banyak orang butuh kan ya.
Ditimbun. Karena panik kasus Corona.
Klo dibeli, trus beneran dipakai.
Klo dibeli, trus dibagi-bagi.
Ga masalah.
Tapi, klo dibeli, ditimbun, dijual lagi. Dengan harga tinggi ... Where is your utek?
Uangnya mau dipake buat beli Lamborghini apa gimana sih?
γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€
γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€ ***
γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€
Untungnya, masih ada orang baik, Gaiiissss.
Jadi, pas aku pulang kerja tadi, di perempatan Ngarsopuro, ada yang bagi-bagi masker. Pengendara yang ga pake masker, dikasih. Dibagi. Trus pada langsung dipake dong. No pict yes. Bekoz aku numpak motor. Ga iso motret sana motret sini.
γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€
Trus ... Sore tadi iseng-iseng bikin survei di status WA. Aku tanya, emang masker beneran langka? Dan ... Mahal?
Rerata pada jawab: Mahal. Susah nyarinya.
Trus, ada yang bilang: 1 box 160rb.
γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€
Wadidaw.
Hand sanitizer juga pada habis. Laris manis.
Wadidaw.
Padahal aku urung tuku. πŸ˜‚ Hatek wes langka n mihil kiyik bigini?
Untungnya ada orang baik part 2. Dikirimi temen skrinsut postingan sesemas di FB. Katanya dia jual masker. Harga per lembar seribu rupiah. Maksimal beli cuma 10. Katanya biar semua kebagian. Wah, penjual jujur iki.
γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€γ…€
Ternyata ... Di dunia yang penuh keembuhan yang bikin ngelus dada ini, masih ada keuwowan lain yang bikin senang hati.
Dunia memang kadang menyebalkan, tapi masih banyak orang baik kok.
Lha sing nakal? Haiyo ben didukani Pak Jokowi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...