Langsung ke konten utama

RESIGN ITU BUTUH PERSIAPAN MENTAL DAN DUIT YANG BANYAK

Namanya manusia, pasti ada titik jenuhnya. Dan ... saya merasa udah mentog, capek raga dan fisik. Tempat kerja saya adalah tempat kerja terbaik saya selama ini (iyelah, wong sejak lulus kuliah sampai sekarang cuma kerja di sini #LOL). Banyak poin plus kerja di sini. Cuman, ya, namanya manusia. Pengen mengubah nasib juga. Izin gampang dan waktu luang di kantor , hahaha adalah dua di antara poin plus. Ga enaknya? Ga bakalan saya share di sini. Cukup saya, Tuhan, dan teman pilihan saya yang tahu. wkwkwkwkw sok misterius.

Kata temen saya, resign dari pekerjaan yang udah lama ditekuni adalah sebuah keputusan besar. Yang biasanya tiap bulan ada yang gaji, eh, mulai nanti, klo masih nganggur, ya cuma mlongoh di rumah.

Pas saya cerita ingin resign, beberapa ngasih semangat. Beberapanya? Menceramahi habis-habisan.

Namun, ada satu teman yang adem banget. Ga menggurui. Ga memarahi.

Saya share apa kata teman saya. Kali aja ada yang terinspirasi pula darinya.

Yeah, I feel you. Rasanya pasti ga nyaman, tapi kantormu sekarang memang sudah jadi ajang perjuangan dan perkembanganmu.
Pesanku. Jangan lama-lama di zona nyaman. Potensimu terlalu besar untuk stag di situ. Pasti akan ada celah-celah seperti 'teman cuti melahirkan', 'proyek buku ini lagi naik', 'promosi jabatan'. Pikirkan masak-masak mana yang worthy buatmu. Aku bilang begini karena aku mengalaminya di kantor lama. Tawaran nglamantan CEOku jadi bersikap canggung ke aku.
Ya, satu lagi. Terus kembangkan diri, nulis di mojok (misalnya) bisa jadi pilihan asyik.
Jangan berhenti belajar. Jangan takut tantangan.
Kata temenku, resign itu selain butuh mental juga butuh modal kira-kira 6 bulan gaji eh pengeluaranmu. Wkwkw...
Dan, kata temenku yang lain: apapun yang tidak sesuai dengan prediksi dan keinginan kita, tetep semeleh dan istighfar tiga kali.
Allah will guide you.

.
.
Adem kan bacanya?

Dan ... nah, lho. Sebutlah gaji saya sebulan cuma 2 juta. Jadilah saya butuh duit 6 x 2 juta = 12 juta. Bisa ga tuh klo tenggat waktu yang saya beri ke diri saya sendiri adalah 3 bulan? wkwkwkw.

Kudu meras otak. Mikir keras. What should I do?

Cita-cita saya adalah jadi freelancer. Ga kerja 9-5 again. Bisakah?

Kasih tips dan masukan bolehlah ya.

Jualan?
Buka jastip?
Nulis trus dikirim ke platform online?
Jadi ghostwriter lagi?

Hmm ... Mari berpikir.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caregiver: Manusia Tanpa Spotlight, Jarang Dinotis, Tidak Ada yang Peduli

Pengalaman jadi caregiver, ternyata peran ini banyak ga dinotis sama orang-orang. Enggak pernah ditanya:  How r u?  R u okay?  Udah makan?  Kamu makan enak ga?  How's your feeling today? Kamu pasti capek, ya! Yang ada:  Gimana kabar your mom ?  Alias Gimana kabar 'pasien'. Wkwkwk. Padahal capek mental dan fisik. Tapi yang dinotis cuma pasien doang. Akhirnya, banyak caregiver merasa sendirian. Aku kemarin sempet baca berita. Seorang istri gantung diri pdhl suaminya lumpuh.  Don't judge her! Aku enggak berani menghujat! Karena kita enggak tahu seterpuruk dan secapek apa ibu itu sampe nekat melakukan hal buruk itu. Karena ngerasain gini, jadi lebih simpati dengan sesama caregiver lain. Hehe. Kalau ketemu mereka, aku pengen ngasih semangat. bakalan tanya kabar dia. Bakalan bilang: jangan lupa makan enak, ya! Kalau soal sabar ... percayalah, mereka udah ditempa sm Tuhan buat belajar sabar. Wong dites tiap hari wkwkwk. Baik pasien dan caregiver keduanya...

Banyak Ditentang, Sebenarnya Childfree Itu Sebuah Ancaman Atau Ketidaksiapan Atas Perbedaan?

Ada netizen yang upload foto anaknya 24/7, society fine-fine saja. Namun, ketika ada seorang netizen upload pendapat pribadi, di lapak sendiri, testimoni pribadi pula, dianggap sebagai ancaman. Yakni seseorang yang memilih Childfree!!! Padahal kalau dipikir-pikir,  manusia itu makhluk dinamis. Apa yang dipikirkan detik ini, belum tentu lima menit berikutnya masih disepakati. Manusia itu makhluk terlabil sedunia, Beb. 😁 No offens, ya Ges ya. Ak cuma menyoroti kenapa kita enggak siap menerima perbedaan. Soal perlakuan bar-bar Gitasav juga, pernah enggak kalian riset atau apa, ya, istilahnya, merenung #halah kenapa seorang Gitasav bisa sebrutal itu ke netizen? Lelahkah ida? Karena jauuuuh sebelum masalah childfree, ada soal ‘stunting’ juga yang dia sebut, dia juga sudah sering diserang dan dikata-katain. Hehe Istilahnya, ojo jiwit yen ora gelem dijiwit. Pas Gitasav nyerang balik, eh, netijen baper ✌️🫢🏻 Eh, ini saya bukan lagi membela ea. Cuma mencoba melihat dari 2 sisi. Soalny...

Hujan dan Perenungan (Awe's Litle Escape)

  Masih bingung, pulang atau enggak? Masuk Magrib, minta izin buat salat di kafe. Habis salat, duduk lagi. Dan hujan makin deres. Akhirnya melihat hujan. Dan merenung.  Flashback hubunganku sama ibuk. Mengingat saat di mana aku bersikap ramah sama ibuk. Menyusun ingatan di mana aku ngasih jempol ke ibuk karena udah ngidupin lampu pas Magrib. Ngasih senyum ke ibuk karena bisa buka pintu sendiri. Ngasih apresiasi saat ibuk udah nyiram tanaman. Bilang makasih waktu ibuk mau bantuin buang sampah. Tapi, oh, tetapi. Kenapa lebih banyak juga ingatan saat aku marah-marah dan bersikap 'kasar' sama ibuk. Ada banyak perasaan ga terima di dada. Ga terima karena aku dilarang curhat, karena klo curhat sama ibuk ujungnya cuma adu nasib. Dan aku dibilang: kowe sih mending. Lha aku? Dan berbagai perasaan marah lainnya, yang kadang aku sendiri bingung: aku kenapa sih? Capek. Jujur capek. Capeeeeek banget. Capek woey! Mau sampai kapan kaya gini terus? Mana aku sering ngomong ga enak juga.  ...